Video Minggu Ini

Jumat, 07 September 2012

MANGGA GEDONG GINCU


Buah Mangga (Mangifera indica  L) merupakan buah tropis yang disukai oleh konsumen dari berbagai kalangan dan banyak ditanam di Kabupaten Cirebon. Rasa buahnya yang beragam, mulai dari yang enak dimakan sebagai buah segar sampai yang asam dan sangat berserat sehingga baru enak bila telah diolah terlebih dahulu.
Buah mangga juga merupakan salah satu dari lima komoditas unggulan komersial Indonesia, disamping buah manggis, pisang, jeruk dan durian (Direktorat Budidaya Tanaman Buah, 2006).
Kandungan gizi pada buah mangga, bermanfaat bagi perbaikan gizi masyarakat, terutama pada kandungan gizi vitamin A dan vitamin C.  Daging buah mangga yang berwarna merah oranye, banyak mengandung vitamin A yang sangat dibutuhkan tubuh manusia.  Tidak semua buah mangga mengandung vitamin A dalam jumlah yang sama. Kandungan vitamin A berkisar antara 1.200 – 16.400 SI, kandungan vitamin A terbesar adalah mangga gedong (16.400 SI).  Selain vitamin A, buah mangga juga mengandung vitamin C yaitu berkisar antara 6 – 30 mg/100 gram buah (Suyanti, Sulusi Prabawati dan Setyadjit, 2006).
Kabupaten Cirebon setiap tahunnya, memberikan kontribusi paling besar terhadap jumlah produksi mangga yang dihasilkan dari Jawa Barat yaitu dengan kontribusi sebesar 60 %.  Pada tahun 2006 populasi pohon mangga di Kabupaten Cirebon sebanyak 855.193 pohon atau equivalent  areal tanam seluas 8.552 ha (jarak tanam 10 m x 10 m). Jenis varietas yang ditanam adalah Arummanis        (34 %), Dermayu (27 %), Gedong Gincu ( 21 %), dan varietas lainnya ( 18 %).  Khusus tanaman mangga gedong gincu, luas tanaman produktif 225 ha dengan produksi sebesar 45.000 ton atau rata-rata produksi sebesar 200 kg/pohon (Dinas Pertanian dan Perkebunan  Kabupaten Cirebon, 2007).
Pada saat ini, Kabupaten Cirebon merupakan salah satu pemasok buah mangga segar untuk pasar luar negeri.  Pada tahun 1998 tidak kurang 7 eksportir  pernah melakukan ekspor buah mangga segar dari Kabupaten Cirebon, terutama untuk varietas gedong green, gedong gincu, arummanis, dermayu, dan varietas kidang. Melihat fenomena tersebut di atas, pengembangan agribisnis mangga di Kabupaten Cirebon agar terus dipacu dengan berbagai upaya program pengembangan baik di tingkat on farm maupun off farm.
Tetapi pada sisi lain agribisnis buah mangga di Kabupaten Cirebon, masih menghadapi masalah, terutama dalam penanganan inovasi pasca panen. Berdasarkan hasil pengamatan pendahuluan di Asosiasi Petani Mangga Kabupaten Cirebon dan kelompoktani mangga Suka Mulya Desa Sedong Lor Kecamatan Sedong Kabupaten Cirebon, kekuatan lama simpan buah mangga masih rendah, yaitu dengan matang penuh antara 9 – 11 hari.  Disamping itu juga, hasil panen mangga masih ditemukan penyakit  Anthracnose,yang menyebabkan buah menjadi busuk. 
Kegiatan penyimpanan bahan hasil pertanian menjadi sangat penting terutama untuk memenuhi kebutuhan akan pangan di luar musim dan menjaga tingkat kesegaran. Hasil panen pertanian apabila dipasarkan menempuh waktu yang lama dan jarak yang jauh, diperlukan teknik penyimpanan sesuai prosedur standar operasional penyimpanan bahan makanan (Ditjen Hortikultura Departemen Pertanian, 2006).
Pada sisi lain, pengaruh organisme pengganggu tanaman (OPT) terhadap lama penyimpan buah masih merupakan masalah dalam agribisnis mangga. Masalah tersebut, dapat diatasi apabila pengendalian OPT pasca panen dapat dilaksanakan sesuai prosedur operasional. Untuk mengendalikan OPT, seperti penyakit Antraknose yang menyebarkan jamur Gloeosporoides atau Glomerella cingulata yang terbawa dari tanaman, diperlukan bahan perlakuan penelitian dengan menggunakan bahan aktif fungsida. Bahan aktif tersebut dibutuhkan agar buah diharapkan tidak cepat busuk dan dapat disimpan lebih lama. Bahan aktif yang digunakan adalah Azoksistrobin 250 g, bahan aktif tersebut merupakan fungisida sistemik
Berkaitan dengan OPT yang berpengaruh terhadap lama penyimpanan buah dan mutu buah, Affandi, (2005), mengatakan ketika buah mencapai kematangan, mikroorganisme baru aktif dan memperlihatkan gejala serangan hingga menyebabkan busuk buah. Busuk lainnya disebabkan oleh infeksi mikroorganisme  melalui luka-luka saat panen atau penanganan pascapanen dan menyebabkan busuk buah. Pada prinsipnya penanganan OPT pascapanen dapat dilakukan pada saat buah masih berada di tanaman maupun setelah buah dipanen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar